Ku mulai awal pagiku dengan bersujud kehadapan sang penggenggam alam raya ini. Dilanjutkan memulai memfasilitasi kawan-kawan dalam kajian/kultum. Pagi ini aku bertemu dengan kawan yang belum bisa baca Al Qur’an, dan ternyata memang benar, beliau tidak berani untuk menjadi imam di sholat yang jahr. Setiap waktu bahkan kurang dari lima menit aku selalu mendengar deru kelu suara ular besi yang kian gesit melewati urat nadi diantara kebiasaan yang kian lama kian menambah ketidakpastian.
Ketidakpastian akan hari esok yang setiap orang mendapatkannya. Menunggu, melamun, mendengkur, dan akhirnya terlupakan! Tapi esok akan datang lagi, esok akan menjadi entity yang selalu membayangi. Telah lama juga tersadari, namun tetap menjadi api yang beku oleh keengganan-keengganan dialektis. Terlampau sombong dengan bekal yang dibawa, padahal paham juga tidak dengan addressee.(tertidur oleh alunan musik yang syahdu, hingga mb’Vany mengagetkanku)
Senin siang pukul 01:39pm
Kopi pahit agak manis menemani siangku ini, ia duduk manis diatas tempat yang penuh makna. Namun kali ini jin batang tak menemaniku, habis ia dimakan waktu. Semoga saja tak berlanjut, hanya ketika mendapat duit saja ia datang, dan semoga walaupun mendapat duitpun ia akan jauh pergi. Semoga dan harusnya!
(Jin itu ada, lalu kusikat saja akhirnya. Hmm...kontradiksi bersebelahan dengan detik.)
Mengembalikan muhammadiyah menjadi sebenar-benarnya Muhammadiyah. Mengingat banyak dituliskan bahwasanya Muhammadiyah sekarang tidak seperti Muhammadiyah yang dahulu, sesuai dengan tujuan didirikannya, yaitu mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Sangat perlu mengetahui sejarah Muhammadiyah, bagaimana persyarikatan ini dulu awal mulanya. Sehingga aku benar-benar mantap memperjuangkan berdirinya organisasi ini, demi mengharap ridho illahi rabbi. Organisasi persyarikatan ini memang perlu ada pemahaman yang mendalam bagi kadernya, ketika kemarin-kemarin aku dengar dari kawan tentang kegelisahan Pimpinan Pusatnya, tentang keadaan Muhammadiyah. Jalan diskusi mencari ilmu adalah salah satu caranya aku pikir, demi mengimbangi banternya budaya opportunisme dan formalisme yang mungkin juga men-tabukan ‘suatu hal’.
‘Suatu hal’ itulah salah satu kegundahanku saat ini, dsamping hal-hal lain yang banyak mengganggu pikiranku sekarang. Hidup itu makan, minum, main, mandi, tapi berpikir juga hidup. Hidup itu menangis, tertawa, marah, namun gelisah juga hidup. Hidup ini indah bukan? Banyak hal yang kita dapat dari’hidup’nya raga dan jiwa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar