Tadi sore sempat aku berbincang dengan master dari acara ini, yang menarik adalah ketika beliau bilang:”besok adit akan merasakan sendiri ketika sudah terjun lebih dalem dalam perkaderan”. Sebenarnya awal dari pernyataan ini adalah ketika aku tanyakan perihal penyesalan dan rasa capek dalam menjalani perkaderan ini. Aku jadi penasaran dengan statement beliau diatas. Yang secara tanggungjawab moral memang aku akan lebih dalam lagi terjun dalam dunia perkaderan.
Menindak lanjuti dari obrolan lepas kemaren malem dengan ke-dua orang hebat tentang kader kintilan dan perlunya kita memiliki kader, minimal seorang. Karena dalam hidup “ilmu” tentang meng-kader ini selalu diperlukan. Itulah hakikat sebagai seorang pemimpin yang memerlukan regenerasi. Regenerasi, kata yang mengantarkan aku menjadi Gubernur untuk yaang kedua kalinya. Dengan alasan bahwa belum ada pengganti yang siap, maka akulah alternatif terakhir untuk tetap “bertahan”.
Regenerasi adalah bukti konkret dari hasil kepemimpinan dalam suatu pergerakan. Ia adalah embun dalam panasnya dunia, yang menjadikan musim semi menjadi nyata. Komitment, loyalitas, dan integritas merupakan point penting dalam membentuk generasi penerus yang hakiki. Menyoal kesiapan dari generasi penerus kita, sebenarnya asumsi-asumsi yang tidak valid mengenai kata’siap’ itu indikatornya masih mengambang. Kesiapan yang seperti apa dari generasi penerus yang dibutuhkan? Terkait kesiapan, perlu kita kontekskan kedalam situasi dan kondisi yang sedang bergolak saat itu, sehingga kata ‘siap’ menjadi jelas maksudnya.
Mengapa aku tulis ‘bertahan’ diakhir paragaraf kedua diatas? Maksudku adalah ke incumbent-an ku menjadi penyebabnya. Terlukis bahwasanya yang namanya bertahan berarti sedang dalam kejadian yang bisa saja mendapatkan tekanan. Terlebih karena pada saat itu memang aku baru mendapatkan ujian dalam “kesombongan” tak terelakkan. Baru kusadari sudah tidak seharusnya aku keluarkan pernyataan-pernyataan itu. Tapi ini bukan penyesalan, inilah proses yang aku lalui, demi mencapai kebijaksanaan paripurna yang diridhoi-Nya. Amiin.
Hmm..., waktu di HP sudah menunjukkan pukul 02;57am. Sudah saatnya aku mulai siap-siap membangunkan peserta pelatihan untuk melaksanakan sholat tahajud. Semangatlah Aditya L Hadi..! perubahan pasti datang dengan dibarengi kesungguhan hati! Digempur hancur lebur bangkit kembali! Digempur hancur lebur bangkit kembali!(Ir.Soekarno).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar